Saat Guru Libur KULTUM, Panggung Literasi untuk Sang Murid
Ada pemandangan yang sedikit berbeda di kelas Ramadan tahun ini. Jika biasanya kita melihat bapak atau ibu guru berdiri tegap di depan menyampaikan tausiyah, kali ini pemandangannya lebih segar. Para guru tampak duduk tenang di barisan belakang, menyimak dengan khusyuk dan melihat anak didiknya yang kultum.
Ya, Ramadan kali ini menjadi momentum "Libur Kultum" bagi para guru. Tapi tunggu dulu, ini bukan soal guru yang ingin bersantai, melainkan tentang memberikan ruang seluas-luasnya bagi siswa untuk mengasah diri.
Kenapa Siswa yang Harus Tampil?
Ada misi besar di baliknya, melatih Kemandirian siswa menyusun materi, memilih rujukan, hingga memberanikan diri berdiri di depan pasang mata memerlukan mental baja. Siswa dipaksa keluar dari zona nyaman.
Asah Life Skill yaitu Public Speaking, Kemampuan berbicara di depan umum adalah skill yang sangat mahal di dunia kerja maupun sosial. Ramadan menjadi laboratorium nyata bagi mereka.
Lalu ada Literasi Keagamaan, Sebelum kultum, mereka tentu harus membaca dan riset. Ini secara otomatis meningkatkan pemahaman agama mereka secara mandiri.
Guru Sebagai Pengamat dan Mentor
Meskipun "libur" bicara, tugas guru tidak benar-benar hilang. Di barisan belakang, guru berperan sebagai pengamat yang jeli. Mereka mencatat bagaimana struktur bicaranya, bagaimana intonasi suaranya, dan sejauh mana pesan yang disampaikan sampai ke audiens.
Melihat mereka berani berbicara dan menyampaikan satu-dua ayat saja sudah merupakan kebanggaan luar biasa. Itu jauh lebih berharga daripada hanya mendengar ceramah saya setiap hari.
Kesimpulannya Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, tapi juga soal pertumbuhan. Dengan membiarkan siswa mengisi kultum, sekolah sedang membangun rasa percaya diri yang akan mereka bawa hingga dewasa nanti. Wah, asyik ya! Guru bisa sedikit mengistirahatkan pita suara, sementara siswa memanen pengalaman yang tak ternilai harganya.